Senin, 21 Januari 2019

Do'a Ibu, Resolusi Tahun Baruku.. #wishcometrue #part2

Gimana.. lanjut nih ya di part 2?
Belum pada bosen kan ya..

Aku masih ga nyangka, bisa benar-benar pergi ke sana. Pada saat story itu dibuat, sama sekali belum ada rencana. Sekedar nulis do'a dan kepengenannya Ibu. Qadarullah do'a itulah yang didengar Allah, dan diwujudkan tepat di akhir tahun 2018. Allahuakbar...

Ya, Ibu waktu itu bilang, "udah ya, dini tahun ini ga usah pergi main-main dulu ke luar negeri, uangnya ditabung aja, siapa tau kita bisa pergi Umroh sekeluarga". Aku sekedar mengiyakan. Dalam hati terbayang mana cukup uangnya, tabungan belum seberapa. Keinginan itu sih ada, namun rasanya harapan masih jauuuh banget.

Seiring berjalannya waktu, hari berganti hari. There was so many ups n down di 2018 ini. Ujian demi ujian silih berganti. Bangkit, lalu terpuruk lagi. Bisa jadi di tahun ini lah semua titik balik itu bermula. Dan terasa banget, 2019 ini my priority, my cry, n happiness, it was totally changed. Mungkin perjalanan itu jadi salah satu pointnya.

Sejujurnya, semenjak percakapan awal tahun itu hingga kepulanganku di hari raya idul fitri, ga ada sama sekali pembicaraan ke arah situ. Karna memang bukan hal yang mudah untuk kami mewujudkannya. Makanya aku kaget pas mudik lebaran Ibu bilang mantep mau jadi pergi. Wih dapet rejeki nomplok dari mana nih Ibu?

Actually, aku agak sedikit khawatir. Kalau Ibu sama Bapak aja yang pergi, nanti yang jagain mereka siapa? Imam juga ga bisa ikut karna ada deadline proyek. Sementara aku, waduh, ngitung-ngitung saldo kok kayaknya mepet ya. Belum lagi itu akhir tahun. Apa bakal dibolehin cuti, secara bendahara bakal cuti lahiran dari desember. Bendahara gantinya siapa, yang ngurus tutup buku akhir tahun siapa. Di sisi lain, aku pengen banget ikut. Apalagi membayangkan kalau ga ikut trus akhir tahun mau kemana? Fix sepanjang perjalanan mudik aku berpikir keras tentang ini.

Sampai pada waktunya abis mudik, packing mau balik lagi ke rantau, akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Ya, keputusan yang masih agak ngambang sebenarnya. Nekad sih, but yeah, i was decided to go.

Sepanjang perjalanan ngeyakinin diri. Udah, InsyaAllah cukup, InsyaAllah ada rejekinya nanti, InsyaAllah diijinin, InsyaAllah ada jalan. Terus dan terus. Sambil ngelist what should've done before i go. Terutama deadline desember dan anggaran akhir tahun ini sih yang harus dipersiapkan banget. InsyaAllah bisa. InsyaAllah selesai. Bismillah..

Setibanya di rantau, first thing yang aku pikirin, gimana caranya minta cuti. Baru pulang cuti, udah ngadep minta cuti lagi, mau ditaruh dimana ini muka? Beberapa hari persiapan mental, hingga...tok tok tok, "Permisi Pak..".

Owh man...keringet dingin di dalam tadi. Agak berat rupanya untuk mengiyakan. Meski akhirnya di acc juga. Baiklah, set time schedule, i have to do my best.

Perjuangan lagi dengan segala ARC dan persiapan HSN, lalu pemetaan. Bener-bener pas udah lelah itu langsung mengingatkan diri, semua akan terbayar nanti, din, InsyaAllah. Menyempatkan pulang di sela-sela kehectican buat ngurus suntik meningitis dan persiapan-persiapan. Bukannya apa, aku lemah dalam hal suntik menyuntik. Dan bener aja, untung suntiknya bareng ortu di deket rumah, jadi pas mau pingsan ada yang mapah. Coba kalo nekad suntik sendiri di Padang, kayak apa hebohnya orang di sana kan.

Persiapan itu dari sekitar bulan Juli, daftar sekaligus setoran pertama. Oh ya nama travelnya yang mengurus perjalanan itu AliaGo. Ustad dekat rumah di bekasi itu yang langsung jadi salah satu pembimbingnya di sana. Jadi alhamdulillah banget, semua urusan dibantu sama beliau.

Yang pertama diurus itu passport. Karena sudah ada dan masih aktif, jadi cuma perlu mengurus penambahan suku kata di nama. Yup, as we know, kalau untuk pergi Haji/Umroh, nama di passport harus 3 suku kata, jadi namaku ditambahin nama Bapak. Biayanya berapa? Maaf aku ga tau, itu sudah diurus langsung sama Ustadnya sekalian pas Ibu Bapak buat passport. Kalau Ibu Bapak, karena bikin baru, jadi harus mengikuti prosedur pembuatan passport baru. Biayanya sendiri, ga termasuk yang dibayarkan ke travel. Dan pas bantu mengurus passport Ibu Bapak ini aku baru tahu kalau sekarang di web nya cuma bisa daftar antrian aja, ga sampai upload dokumen dll. Biayanya masih sama 355ribu. Urusan passport kelar, lanjut ke suntik meningitis.

Suntik meningitis ini bisa dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Waktu coba buka web nya https://kespel.kemkes.go.id/ di sana ada form untuk mendaftar online, tapi informasi yang dibutuhkan agak banyak. Karna kata Ustadnya langsung datang ke sana aja, ya udah kita manut. Waktu itu suntiknya tanggal 20 Agustus, 2 hari menjelang Idul Adha, karna jadwalnya udah mepet dan susah ambil cutinya, jadi ambil aja waktu pas ada hari kejepit. Vaksin ini bertahan sekitar 2 tahun, jadi kalau tahun besok ada rejeki lagi dan mau pergi lagi ga perlu suntik lagi. Yang perlu di bawa, fotokopi passport dan pas photo 4x6 1 lembar. Biayanya sekitar 305ribu. Kami ambil di KKP Halim PK. Prosesnya terbilang cepat dan saat itu antri hanya 3 orang. Selesai suntik, kita dapat buku ICV atau biasa disebut buku kuning.

Passport siap, ICV siap, tinggal Visa. Ini bagian travelnya yang mengurus dan biayanya sudah include dengan biaya Umroh. Kami hanya perlu menyiapkan foto dengan latar belakang putih dan full nampak muka.

Persiapan dokumen satu per satu terselesaikan, dan sungguh Maha Besar Allah swt, entah bagaimana dan dari mana, ada saja rejeki mengalir untuk mencukupkan biaya keberangkatan kami. Meski waktunya mepet, dengan persiapan seadanya, semua selesai dan tercukupi tepat pada waktunya.

Fabiayyi 'Aala'i Rabbikuma tukadziban..
Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang kamu Dustakan?

Menjelang keberangkatan segala kehectican itu belum juga usai. Struggling membantu tutup buku anggaran di kantor, dengan segala permasalahannya, 18 rincian SPM LS, list kuitansi, panduan-panduan, belum lagi masih ada hutang 3 publikasi yang belum rilis. Ya Allah, rasanya ga akan sanggup deh kalau harus berjuang sendirian. Dan segala perjuangan, kesabaran, semua lelah itu terbayarkan. Siapa lagi yang menguatkan kalau bukan Allah swt?

Lanjut ke part 3 ya :)

Minggu, 20 Januari 2019

Do'a Ibu, Resolusi Tahun Baruku.. #wishcometrue #part1

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu'alaikum..

It's been a long time ya. Sudah 5 tahun sejak postingan terakhirku di blog ini. Wanna share something since last week, but unfortunately i'm totally forgot my blog password. Coba coba dan coba, alhamdulillah i've got it back, and here i am.

Hmm before i start, i warn you all, it would be a long long long story. Karna aku itu pelupa, jadi aku memutuskan untuk cerita sedetail-detailnya memory ini di sini. Since it was a big moment in my life, well such a wish come true, aku pengen suatu hari nanti bisa reread ini n recall memory itu kembali.

Oke cukup preambule nya, lets start..

Here i am, in a lil city, a thousand kilometers away from my lovely paradise. Sebut aja swl. Gak tahu kenapa, rasa homesick itu benar-benar kerasa akhir-akhir ini. Rasanya berat banget harus balik ke rantau, di saat hati tertinggal di sana.

Well, it's been 6 years, but i still can't find a way to be stronger, terutama saat-saat aku harus masuk ke ruang tunggu, menjabat memeluk dan mencium mereka. Masih berusaha mengingat, apa pernah aku di detik seperti ini benar-benar easy, bisa jalan melenggang seperti ga ada perasaan apa-apa? Nggak, seingatku ga pernah. Udah berusaha have fun pun sebelumnya, endingnya pas udah di detik ini pasti nyesek lagi. Harus banget ya aku pergi?

Dan udah 14 hari ngejalanin aktivitas di sini (setelah terakhir pulang kemarin), masih aja malamnya ngeblues, keinget lagi, mbrebes mili lagi. Rasanya detik ini juga pengen balik, pulang ke rumah. Memeluk dan menyelinap di selimutnya Ibu, mainin dan nguyel-nguyel si myu, masak-masak bareng Bapak, dan malemnya begadang nonton film sama si imam. Ahh, miss them so much, Ya Allah..

Dua hari ini aku memutuskan stay di Sawahlunto. Ajaib, karna biasanya seorang dini kalo udah ketemu weekend pasti bawaannya cepet-cepet ke Padang lah. Abis gimana, udah kehilangan 'nyawa' di sini, feeling empty, rasanya sia-sia aja karna di sana pun ga ada mereka. Cuma pindah tidur dan capek di jalan aja, buat apa. Haha entahlah i'm feeling so useless. Ga mau berlarut-larut, aku memutuskan buat cari cara memperbaiki mood, which is Masak could help me better. And yeah, dua hari ini produktif sekali sampe bisa bikin roti bakar, ayam ungkep, nasi goreng, popcorn, sop, ayam goreng, dough pizza, n many more. Capek? Iya. Tapi at least sedihnya berkurang sedikiiit.

Malam ini hujan. Scroll timeline as me killing the time, found an archive story 1 year ago. Niatnya sih mau nge playback semua story setahun. Ehhh ketemu story tgl 1 jan 2018, passs ngena banget di hati.

It was me n my mom foto di depan jam gadang. Ya, akhir tahun lalu Ibu liburan ke sini, dan pulangnya itu pas tgl 1 januari ini. Jadilah kubikin story lagi baper mau ditinggal balik. But there is something else touching me inside. Ada terselip do'a disitu, "Next journey Insya Allah sesuai do'a kita ya Bu.. Aamiin.. Allahuma Aamiin..". Nyesss.. MasyaAllah.. itu beneran, do'a Ibu itu diijabah Allah swt. Ya Allah.. gimana bisa.. Cuma Allah yang tahu jawabnya. And those beautiful journey bakal aku cerita di part 2 ya.. jangan bosen ya?

Oke lanjut...

Kamis, 07 Agustus 2014

You Deserve More..



“Jadi mau lo apa sih?”, Glenn menatap Julia dengan tajam. Kata-katanya begitu keras menampar hati kecil wanita rapuh itu. Kekesalannya tergambar jelas di rahangnya yang mengeras. Suasana begitu panas, hingga air mata Julia meleleh pelan di sudut pipinya yang memerah. Bukan karena perona yang terlalu banyak ia sapukan di pipinya, namun karena bentakan Glenn yang begitu membahana membuat orang-orang di sekitar yang awalnya tak peduli jadi berpikiran macam-macam.

“Lo tuh bukan siapa-siapa gw. Lo gak berhak ngatur gw. Gw deket sama lo, bukan berarti lo bisa atur-atur gw seenak jidat. Lagian mau lo apa sih? Lo ngarep jadi pacar gw? Ih..jangan mimpi!”

Julia terperangah. Pipinya semakin memerah. Perempuan mana yang tak malu dibentak seperti itu di tempat umum. Namun ia tak bergeming. Tidak pula menangis lalu menampar penuh amarah seperti layaknya adegan drama di televisi. Dengan penuh ketegaran ditatapnya kedua bola mata Glenn dalam-dalam. Hal yang sangat mustahil dilakukan seorang Julia sebelumnya. Ia tak pernah tahan menatap Glenn berlama-lama. Ia takut Glenn dapat menebak apa yang dipikirkannya. Namun tidak kali ini. Tekadnya sudah bulat. “Biarlah Glenn tahu semuanya..”, gumamnya.

“Kalo kamu berpikir aku mau kamu jadi pacarku, kamu salah. Salah besar. Aku sama sekali gak menginginkan itu.”

“Maaf. Maafkan aku.”

“Aku memang mencintaimu. Tapi cintaku lebih dari itu.” 

“Aku pernah meminta, jika suatu saat aku jatuh cinta, jadikan itu untuk selamanya. Bukan untuk sesaat, sekedar status, atahu merayakan anniversary bersama. Bukan sekedar reminder dari pagi sampai malam, atahu sekedar menelepon berjam-jam tanpa manfaat.”

“Aku jahat jika aku hanya menyandangkanmu status ‘pacar’. Status yang klise menurutku. Sementara kamu berhak mendapatkan lebih.”

 “Aku tak ingin sekedar kau ingatkan untuk shalat. Jadilah kau imam, untukku dan keluarga kecil kita. Berada satu shaf di belakangmu adalah salah satu impianku. Mengingatkan kala aku lalai, tak lupa mengajakku untuk melengkapi dhuha dan tahajud. Lalu kelak kukecup punggung tanganmu seraya aku mengamini semua do’a-do’amu.”

“Aku tak ingin sekedar kau ingatkan untuk makan. Inginku menjadi wanita yang menyiapkanmu sarapan, bekal untuk makan siang, dan makan malam. Aku ingin jadi yang paling tahu makanan favoritmu, yang kamu tidak suka, dan yang menjadi pantanganmu untuk kuhindari. Bahagiaku adalah saat melihatmu melahap habis makanan yang aku buat. Meski sederhana, namun itu berkesan mendalam.”

“Aku ingin menjadi pendengar yang baik untuk segala permasalahanmu. Bersama kita temukan solusi terbaik. Do’aku takkan henti menemanimu. Hingga kelak kulihat senyum mengembang di bibirmu. Dengan penuh bahagia kau capai kesuksesanmu.”

“Aku mengikhlaskan sisa hidupku kuhabiskan untukmu. Setia menjadikanmu cinta ketiga dalam hidupku, setelah Allah dan orangtuaku. Tak kan lelah aku belajar untuk menjadi bidadarimu di dunia, dan di akhirat kelak. Karna kamulah kekuatanku. Dan bagiku cinta adalah pengabdian tanpa batas.”

“Jika itu semua tak cukup membuatmu bahagia, aku ikhlas. Aku ikhlas melepasmu, sebagai mana aku bahagia menyambutmu dalam kehidupanku. Aku ikhlas tak memilikimu jika bahagiamu ada pada yang lain. Kenyamanan denganmu selama ini adalah anugerah terindah yang pernah aku rasakan.”

Julia terdiam sesaat. Diamatinya lelaki yang amat dicintainya itu. Tetapi yang dipandanginya hanya diam membisu. Terlihat jelas bagaimana bola mata Glenn menari-nari ke segala penjuru, seakan mencoba mencari kata yang tepat, namun tak juga ketemu. Digenggamnya kedua tangan Glenn dengan penuh keberanian. “Tak apalah, biar selesai semuanya..”, begitu pikirnya.

 “Terima kasih, Glenn.. Terima kasih untuk semuanya.”

“Kamu kisah terindah yang pernah ada dalam hidupku.”

“Maaf jika cintaku ini telah mengganggu kebahagiaanmu.”

Julia tersenyum menghela nafas panjang. Rasa yang selama ini hanya dipendamnya, kisah yang selama ini hanya dibagi dengan Tuhannya, dalam hatinya begitu lega bisa mengungkapkan itu semua.  Hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Glenn sendirian.

Dan Glenn, lelaki itu hanya terdiam terperangah. Tak pernah disadarinya Julia memendam itu semua. Wanita yang selama ini dikenalnya, wanita yang selalu ada, dan selalu ingin berada di sisinya. Wanita yang dikiranya begitu rapuh, ternyata kuat menyimpan cinta yang begitu besarnya. Cinta yang semestinya ia sadari dari dahulu. Cinta yang semestinya ia rasakan juga, jika saja ia tak membohongi hati kecilnya. “You deserve more, Julia..”, lirihnya dalam keheningan malam.

Sabtu, 19 Juli 2014

#dearyou



Adalah bahumu..
Tempat ternyaman ketiga dalam hidupku..
Untukku meletakkan lelah,
Setelah sujudku dan rengkuhan ibu..

Adalah bahumu..
Dimana aku merasa aman
Dari sengat dunia yang mengerikan
Dari kehidupan yang menjemukan..

Adalah bahumu..
Dimana aku ingin hentikan waktu
Untuk sesaat atau selamanya
Tak ingin berlalu begitu saja..

Adalah bahumu..
Yang selalu ada di sisiku
Tanpa aku mengerti apa yang ada dalam pikiranmu
Kala ku bersandar di sisimu..

Selasa, 15 Juli 2014

Be Strong, My Sunshine..


Dear my sunshine..
if i can't be a pen to write your happiness,
can i at least be an eraser to erase your sadness..?
 
Mentariku..
Adalah pagi yang mendung tanpa senyummu. Aku bukanlah cenayang yang mampu membaca pikiranmu. Dan aku bukanlah orang terdekat yang tahu segalanya tentangmu. Namun cukup bagiku membaca sorot tajam matamu untuk turut merasakannya. Ya, pagi ini sorot mata itu kehilangan sinarnya. Ya, pagi ini tak kulihat senyum merekah di bibirnya. Ada apa?

Mentariku..
Sepenggal kata-katamu hadir di ponselku. Ya, di situlah tempat aku mencari tahu kabar tentangmu. Aku berharap setiap saat, setiap detik, kau bersedia membagi apa yang kau rasa. Seperti pagi ini. Tiga kata yang cukup membuatku pahami, mengapa sinarmu ditelan bumi.

Mentariku..
Aku mungkin tak cukup akrab dengan rasa kehilangan. Bahagiaku sungguh sempurna dengan adanya mereka. Ayah, ibu, dan adik tercinta. Hidupku lengkap karenanya. Meski kini jauh dari sisi, masih bisa kurasakan hangatnya suasana di sana.

Lalu..bagaimana denganmu, Mentariku..?
Sungguh pahit pastinya hidup tanpa rengkuhan kasih seorang ibu. Manusia yang sedari awal kau diciptakan selalu bersamamu dan menyayangimu. Dengan semurni-murninya cinta, dengan setulus-tulusnya kasih sayang. Tujuh tahun tanpanya, tentu bukan hal yang mudah. Aku tak bisa menerka, sudah sedalam mana jelaga kesedihanmu. Aku pun tak dapat mengukur, sudah sebesar apa ketegaran yang kau bangun.

Mentariku..
Aku bukanlah siapa-siapamu. Aku pun tak memiliki sesuatu untuk menghapus dukamu.
Aku hanya 'dipinjami' tubuh ini dari Yang Maha Memiliki.
Sepasang mata ini..yang kuharap mampu meneduhkanmu kala kau tatap.
Sepasang telinga ini..yang akan selalu siap mendengar segala keluh kesah, sedih, bahagiamu.
Mulut ini..yang senantiasa menyebut namamu dalam do'a.
Bahu ini..yang siap kau sandarkan kala dunia membuatmu lelah.
Tangan ini..yang akan selalu menguatkanmu, menggenggammu, dan meluruhkan egomu.
Jantung ini..yang selalu saja berdebar karna kehadiranmu.
Hati ini..yang turut merasa perih ketika kau sedih.
Kaki ini..yang akan menemanimu melangkah, bersama meraih impian.
Dan cinta ini..yang akan merekah kala kau bahagia, ikut hancur kala kau terhempas, menyejukkanmu dan pula menghangatkanmu, bertahan meski panas terik-hujan badai.
Ya..hanya ini yang kupunya.

Tersenyumlah, Mentariku..
Kuatkanlah, dirimu. Aku tahu kau mampu.
Esok adalah hari bahagiamu. Bertambah satu tahun umurmu. Bertambah dewasalah pula dirimu.
Jadikan getir ini sebagai pijakan, kekuatan bagimu untuk menapaki masa depan. Semakin kuat pondasi yang kau bangun hari ini, semakin menjadi tegar pribadimu nanti.

Be strong, my sunshine..
Just like a rainbow after the rain,

A good thing will always happen after you experience pain..

Jumat, 20 Juni 2014

P.S I Love You!

Sebuah judul film yang cukup terkenal. Yup, everybody have known it. Tapi di posting ini, gw bukan mau ngebahas tentang film itu. Yakali nonton film itu aja belum pernah tapi udah sok-sokan mau ngebahas. Hehe, forget it..

First, let me take a deep breath.. fiuhhh..

I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right, but that's a lie, that's a lie

And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show

'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows

Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
Lagunya Ariana Grande ini sangat menohok batin gw. Pas banget di salah satu kotak kecil di hati gw, yang sekarang ditempati olehnya. Allah sungguh Maha Besar. Di tempat nyempil sekecil itu, selalu akan muat menyimpan semua tentangku, tentangnya, tentang kami berdua. Sungguh hati dan pikiran manusia adalah suatu sistem yang amat sangat luar biasa yang mampu menyimpan segala momen. Momen bahagia, momen berduka, momen yang diharapkan, dan momen yang selamanya hanya akan menjadi impian.

Huffft..let me take a deep breath again..

Pernah gak sih kamu ngerasa nyaman banget ke seseorang? saking nyamannya kamu gak bisa jauh dari dia, dan rasa nyaman itu perlahan berubah menjadi rasa sayang yang teramat dalam. Maaf deh kalo gw lebay, tapi ini serius. Semua hal-hal yang sebenarnya biasa, tapi karena terbiasa dilakukan bersama, perlahan menjadi semakin tertanam, dan menjelma lagi menjadi sesuatu yang..luar biasa.

Nah, sekarang kita kaitkan dua kata luar biasa di dua paragraf barusan..

Hal-hal luar biasa yang gw lakukan bersamanya, entah bagaimana terekam dan tersimpan apik di sistem luar biasa yang diciptakan Tuhan, di dalam tubuh mungilku ini. Dan semua itu bersinergi dengan ajaibnya menciptakan berbagai rasa yang bergantian berpendar dalam alur hidupku. Mungkin kalian bisa tebak rasa apa aja yang muncul?

Ya..ya..ya..semua yang kalian sebutkan itu..semuanya gw rasakan. Ajaibnya, itu semua hanya muncul jika itu berkaitan antara gw dengan dia. Iya, cuma sama dia. Kalo selain sama dia? Biasa, hambar, yaudah gitu aja, gak ada yang spesial. Mungkin akal pikiran manusia gak akan sanggup untuk memikirkan bagaimana ini semua bisa terjadi. Itulah mengapa, cinta itu luar biasa.

Hmm..hmm..wait for a minute, tadi gw bilang 'cinta'? Gw pun gak tau apakah yang gw rasakan ini bisa disebut cinta.

Gw gak tau..

Yang gw tau, gw nyaman sama dia. Yang gw tau, gw akan jauh lebih semangat dan bahagia setiap melakukan apapun dengannya. Yang gw tau, gw akan lakukan apapun yang bisa buat dia bahagia. Yang gw tau, gw gak sanggup menatap matanya. Yang gw tau, gw jauh lebih gak sanggup untuk jauh dari dia, mau itu sebentar banget, apalagi lama banget. Yang gw tau, setiap ada yang ngomongin keburukannya, gw cukup mendengarnya, mengamati, dan jika memang benar gw akan membantunya supaya jadi lebih baik. Yang gw tau, segala hal-hal yang bagi orang itu mengganggu, justru menjadi alasan bagi gw untuk tersenyum. Yang gw tau, kalo rasa-rasa ini udah overload, udah barang pasti air mata gw akan mengalir. Yang gw tau, namanya akan selalu gw sebut di dalam do'a. Dan yang gw tau, mau sebanyak apapun gw tulis disini, gak akan ada habisnya untuk ngebahas tentang dia.

Itu..

Sedalam itu..

Dan.. tersiksa kah gw merasakan itu semua? Apalagi dengan rapat menyembunyikan itu semua?

No.. Absolutely, No..

Justru gw bahagia.

Gw bahagia bisa merasa nyaman dengannya. Gw bahagia bisa melakukan apapun dengannya. Gw bahagia kalo bisa bikin dia bahagia. Gw bahagia saat dimana jantung gw berdebar luar biasa setiap di dekatnya. Gw bahagia bisa merindukannya kala dia jauh. Gw bahagia bisa membantunya jadi lebih baik. Gw bahagia karna selalu ada alasan bagi gw untuk tersenyum. Gw bahagia saat gw masih bisa nangis karna dia. Gw bahagia bisa menyebutnya dalam do'a-do'a gw. Dan gw bahagia, selalu ada yang bisa gw ceritain tentang dia, lagi dan lagi, gak akan pernah habis.

Lalu..apakah gw berharap?

Gw gak berharap yang muluk-muluk. Gw gak akan memaksa dia untuk tetap berada di sisi gw. Gw gak akan memaksa dia untuk merasakan hal yang sama. Gw gak akan memaksa dia untuk membalas apapun yang pernah gw lakukan buat dia. Gw gak akan memaksa dia.

Karna apa?

Karna gw mau semuanya berjalan natural, mengalir apa adanya, tanpa paksaan, tanpa tekanan. Gw yakin kok, hati selalu tahu kemana akan menuju. Iya, hati itu perasa. Sebebal apapun dia, dia pasti akan merasa.

Dan semuanya gw kembalikan lagi ke dia. Gw ikhlas kok dengan apapun yang akan terjadi, seikhlas pertama kali gw memutuskan untuk memilih dia, dan memberikan hati ini kepadanya.

Sebagai penutup..singkat saja, 


I Remember..
Every detail of you..
Every moment that we’ve been through..
Every single tears, a lil’ smile, or a big laugh..
..and i realized..
Right from the start, you were a thief you stole my heart..
Right from the start, I knew that I'd found a home for my heart..
Yes, you’re the winner of my heart..
I prefer to prove it rather than to say, “I love you”..
Because a true love is not a bullshit, which is just came, spoken, and then left.
Kepada Mr. Hulk yang selalu di hati, terima kasih sudah membuatku sebahagia ini. Maafkan aku yang membawamu ke dalam kerumitan ini.
P.S I Love You! :)

I Remember



I Remember..
Every detail of you..
Every moment that we’ve been through..
Every single tears, a lil’ smile, or a big laugh..
..and i realized..
Right from the start, you were a thief you stole my heart..
Right from the start, I knew that I'd found a home for my heart..
Yes, you’re the winner of my heart..
I prefer to prove it rather than to say, “I love you”..
Because a true love is not a bullshit, which is just came, spoken, and then left..